
MITOSBOLA – Pada pertandingan Liga 4 Zona Jawa Timur, PS Putra Jaya Sumurwaru menghadapi Perseta 1970 di Stadion Gelora Bangkalan, Senin (5/1/2026). Dalam laga tersebut, pemain PS Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gymnastiar, melakukan pelanggaran keras dengan sengaja menerjang dada pemain Perseta 1970, Firman Nugraha. Akibatnya, Nugraha terkapar dan memerlukan pertolongan medis segera.
Langkah Tegas Klub: Pemecatan dan Permintaan Maaf
Merespons insiden tersebut, PS Putra Jaya mengambil langkah disipliner tegas. Melalui surat resmi yang diunggah di akun Instagram @ps.putrajaya, klub mengumumkan pemberhentian Muhammad Hilmi Gymnastiar. Klub menyatakan bahwa tindakan pemain tersebut melanggar asas fair play dan aturan sepak bola. PS Putra Jaya juga menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak, terutama kepada tim Perseta 1970.
Respons Komdis PSSI: Ancaman Sanksi Maksimal
Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husin, menanggapi serius kasus ini. Ia menegaskan bahwa pihaknya berwenang memberikan hukuman berat, bahkan hingga larangan beraktivitas di sepak bola nasional seumur hidup bagi pelaku. Husin menekankan bahwa jaminan keselamatan atlet diatur baik dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional Nomor 11 Tahun 2022 maupun Kode Disiplin sepak bola.
Komitmen Menegakkan Aturan dan Menciptakan Iklim Kondusif
Umar Husin menjelaskan bahwa tugas Komdis adalah menciptakan lingkungan kondusif bagi perkembangan sepak bola yang sehat. Setiap pihak yang mengancam atmosfer tersebut, termasuk dengan tindakan brutal, akan ditindak tegas. Ia mengimbau seluruh panitia disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu menjatuhkan hukuman berat terhadap pelanggaran keras guna melindungi olahraga dan atlet.
Imbauan untuk Penegakan Hukum tanpa Ragu
Menutup pernyataannya, Husin menguatkan kembali dasar hukum untuk bertindak tegas. Ia mendorong komite disiplin di daerah dan panitia pelaksana liga untuk memberlakukan aturan tanpa keraguan. Terkait kasus Hilmi Gymnastiar, Komdis PSSI menilai pelanggaran tersebut pantas mendapat hukuman setinggi-tingginya demi efek jera dan perlindungan masa depan sepak bola Indonesia.
